Belajar Probiotik melalui Pangan Lokal, Poltekkes Kemenkes Banten Ajak Siswa SMP Membuat Tempoyak

Pembelajaran tentang kesehatan dan mikroorganisme tidak selalu harus dilakukan di laboratorium dengan peralatan yang kompleks. Di SMP IT Indra Bangsa Al Mubarok, siswa justru diajak mempelajari bakteri melalui salah satu pangan fermentasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu tempoyak.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa diperkenalkan pada pemahaman bahwa tidak semua bakteri menyebabkan penyakit. Beberapa jenis bakteri justru memberikan manfaat bagi tubuh dan berperan dalam proses pengolahan pangan, termasuk dalam fermentasi tempoyak.

Sebanyak 40 siswa kelas VIII mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh dosen Program Studi DIII Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Banten dengan melibatkan tiga mahasiswa. Kegiatan ini dipimpin oleh Maya Sari, S.Pd., M.Si., bersama Syarah Anliza, S.Si., M.Si., dan Achmad Rizki Azhari, SKM., M.KM.

Tim pelaksana menerapkan metode pembelajaran yang mengintegrasikan penyampaian materi, praktik langsung, dan pengamatan ilmiah. Pendekatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar secara langsung.

Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu pada 4 dan 8 Juni 2026. Sebelum pembelajaran dimulai, para siswa terlebih dahulu mengerjakan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai bakteri, probiotik, dan proses fermentasi.

Setelah itu, siswa mengikuti penyampaian materi secara interaktif dengan menggunakan berbagai media, seperti presentasi, video edukasi, leaflet, dan lembar kerja peserta didik atau LKPD.

Antusiasme siswa terlihat ketika memasuki sesi praktik pembuatan tempoyak. Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak sekadar mencampurkan bahan, tetapi juga mengikuti dan mengamati proses fermentasi selama tiga hari. Melalui pengamatan tersebut, siswa dapat memahami bagaimana bakteri baik bekerja dalam menghasilkan produk pangan fermentasi yang bermanfaat.

Ketua pelaksana kegiatan, Maya Sari, menjelaskan bahwa pemanfaatan pangan lokal sebagai media pembelajaran dipilih agar konsep sains lebih mudah dipahami dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman bahwa bakteri tidak selalu berhubungan dengan penyakit. Tempoyak sebagai pangan fermentasi lokal dapat menjadi media bagi siswa untuk mempelajari proses fermentasi, bakteri yang bermanfaat, dan konsep probiotik secara langsung dan kontekstual,” jelas Maya Sari.

Selain mengikuti praktik fermentasi, siswa juga memperoleh pengenalan mengenai pemeriksaan mikroskopis. Kegiatan ini memberikan gambaran kepada para peserta mengenai pemanfaatan ilmu dan teknologi laboratorium dalam mengamati mikroorganisme secara ilmiah.

Penggabungan metode praktik dan observasi menunjukkan hasil yang positif. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 67,75 pada saat pre-test menjadi 83,50 pada post-test. Dengan demikian, terjadi peningkatan rata-rata sebesar 15,75 poin.

Dari 40 siswa yang mengikuti kegiatan, sebanyak 26 peserta atau 65 persen menunjukkan peningkatan nilai setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran.

Menurut Maya, hasil tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan penyampaian teori di dalam kelas.

Untuk mendukung keberlanjutan program, tim Poltekkes Kemenkes Banten turut menyerahkan Paket Sistem Praktikum kepada pihak sekolah. Paket tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa sebagai sarana pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam melalui kegiatan praktikum sederhana yang dilakukan secara mandiri.

“Kami berharap manfaat kegiatan ini tetap dapat dirasakan meskipun rangkaian pengabdian telah selesai. Paket Sistem Praktikum yang diserahkan kepada sekolah diharapkan dapat digunakan secara berkelanjutan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis praktik,” tambah Maya.

Kepala SMP IT Indra Bangsa Al Mubarok, Muhammad Fahmi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi telah memberikan pengalaman pembelajaran yang menarik dan berbeda bagi para siswa.

“Alhamdulillah, kami menyambut baik dan sangat mengapresiasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Poltekkes Kemenkes Banten di sekolah kami. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang menarik sekaligus membantu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai kesehatan. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang,” ungkap Muhammad Fahmi.

Melalui kegiatan pembuatan tempoyak, siswa tidak hanya diperkenalkan pada kekayaan pangan tradisional Indonesia, tetapi juga diajak memahami bahwa berbagai konsep ilmu pengetahuan dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

Pembelajaran berbasis pangan lokal tersebut menjadi salah satu langkah konkret dalam meningkatkan literasi sains, memperkenalkan peran bakteri yang bermanfaat, serta menumbuhkan kesadaran mengenai kesehatan sejak usia sekolah.