UPK SDMK Banten Selenggarakan Empat Angkatan Pelatihan BTCLS bagi 100 Peserta

Unit Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kesehatan (UPK SDMK) Banten telah menyelenggarakan Pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) Angkatan 1 hingga Angkatan 4 pada 11–22 Agustus 2026. Pelatihan dilaksanakan dengan metode blended learning di UPK SDMK Banten Lantai 2, Poltekkes Kemenkes Banten.

Pelatihan BTCLS merupakan pelatihan teknis profesi kesehatan yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan peserta dalam memberikan penanganan awal kegawatdaruratan akibat trauma dan gangguan kardiovaskular.

Masing-masing angkatan tercatat di Kementerian Kesehatan dengan jumlah 25 peserta. Dengan demikian, penyelenggaraan empat angkatan pelatihan BTCLS ini mencakup sebanyak 100 peserta.

Empat Angkatan dalam Dua Periode Pelaksanaan

Pelatihan BTCLS Angkatan 1 dan Angkatan 2 dilaksanakan pada 11–16 Agustus 2026. Selanjutnya, Angkatan 3 dan Angkatan 4 dilaksanakan pada 18–22 Agustus 2026.

Setiap angkatan diselenggarakan selama 55 jam pelajaran (JPL), terdiri atas 23 JPL teori dan 32 JPL penugasan atau praktik. Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk mandiri dengan metode blended learning serta didukung oleh Learning Management System (LMS) Kementerian Kesehatan.

Berdasarkan surat keterangan registrasi pelatihan, setiap angkatan memperoleh pengakuan sebanyak 15 Satuan Kredit Profesi (SKP) bagi peserta.

Tingkatkan Kompetensi Penanganan Kegawatdaruratan

Pelatihan BTCLS ditujukan bagi tenaga kesehatan, antara lain perawat, bidan, dan tenaga medis lainnya yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Mahasiswa tingkat akhir bidang kesehatan juga dapat mengikuti pelatihan sesuai dengan kebijakan penyelenggara.

Melalui pelatihan ini, peserta dibekali kemampuan untuk memahami konsep dasar penanganan kegawatdaruratan trauma dan jantung, melakukan pemeriksaan awal dan lanjutan secara sistematis, serta melaksanakan resusitasi jantung paru dengan tepat.

Peserta juga dilatih menggunakan berbagai peralatan kegawatdaruratan, seperti Automated External Defibrillator (AED), ambu bag, dan alat pengisap atau suction. Selain itu, peserta mempelajari teknik evakuasi dan transportasi pasien, stabilisasi awal kasus trauma, serta koordinasi tim dalam menghadapi kondisi gawat darurat.

Pembelajaran Teori dan Praktik melalui Skill Station

Struktur kurikulum pelatihan mencakup materi dasar, materi inti, dan materi penunjang. Materi dasar meliputi etik dan aspek legal keperawatan gawat darurat serta Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

Adapun materi inti yang diberikan kepada peserta meliputi:

  • Bantuan Hidup Dasar;
  • triase pasien;
  • penilaian dan penatalaksanaan awal atau initial assessment;
  • penatalaksanaan gangguan jalan napas dan pernapasan;
  • penatalaksanaan gangguan sirkulasi;
  • penatalaksanaan kegawatdaruratan kardiovaskular;
  • penanganan trauma kepala dan tulang belakang;
  • penanganan trauma toraks dan abdomen;
  • penanganan cedera muskuloskeletal dan luka bakar; serta
  • evakuasi dan transportasi pasien.

Materi penunjang mencakup Building Learning Commitment dan materi antikorupsi.

Setelah memperoleh materi teori, peserta mengikuti simulasi melalui metode skill station. Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan didampingi oleh instruktur agar setiap peserta memperoleh kesempatan untuk melakukan praktik secara langsung.

Skill station mencakup praktik RJP dewasa, RJP anak, initial assessment, manajemen jalan napas dan pernapasan, triase, EKG, perhitungan cairan, transportasi dan evakuasi, serta balut bidai.

Pelaksanaan materi dan praktik melibatkan fasilitator serta instruktur yang kompeten di bidang kegawatdaruratan, termasuk instruktur dari Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI).

[SISIPKAN FOTO 6 – Instruktur mendemonstrasikan tindakan kepada peserta]
Caption: Instruktur memberikan demonstrasi sebelum peserta melaksanakan praktik secara mandiri.

Evaluasi Pengetahuan dan Keterampilan

Evaluasi hasil pembelajaran dilakukan melalui post-test, penilaian simulasi, dan ujian praktik. Post-test memiliki bobot 20 persen dengan batas nilai kelulusan 80, sedangkan penugasan simulasi memiliki bobot 30 persen.

Ujian praktik memiliki bobot 50 persen dengan batas nilai kelulusan 85. Ujian keterampilan meliputi RJP atau Bantuan Hidup Dasar menggunakan AED serta initial assessment. Peserta yang belum memenuhi batas nilai diberikan umpan balik dan kesempatan remedial satu kali sesuai ketentuan pelatihan.

LMS Pelatihan BTCLS Angkatan 1–4

Pembelajaran dan administrasi pelatihan didukung melalui LMS Kementerian Kesehatan. Halaman LMS masing-masing angkatan dapat diakses melalui tautan berikut:

  1. LMS Pelatihan BTCLS Angkatan 1
  2. LMS Pelatihan BTCLS Angkatan 2
  3. LMS Pelatihan BTCLS Angkatan 3
  4. LMS Pelatihan BTCLS Angkatan 4

Penyelenggaraan empat angkatan Pelatihan BTCLS ini menjadi bagian dari komitmen UPK SDMK Banten dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Kompetensi penanganan kegawatdaruratan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi menjadi bagian penting dalam upaya menyelamatkan nyawa serta mencegah kecacatan akibat trauma dan gangguan kardiovaskular.